Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Desember 2013



Husnudzan kepada Allah adalah bagian dari ibadah hati yang sangat agung serta memiliki pengaruh positif terhadap seorang hamba baik dalam urusan dunianya maupun urusan akhiratnya. Sedangkan seorang hamba selalu membutuhkan Allah Ta’ala dalam segala kondisinya. Berhusnudzan kepada Allah adalah salah satu karakter dari orang-orang yang beriman, yang mana mereka berusaha untuk menempuh sebab kemudian mereka berhusnudzan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat kebajikanlah sesungguhnya Allah cinta terhadap orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Ma’idah: 93)

Berkata Sufyan Ats-Tsauri ketika menjalaskan ayat diatas,
أي أحسنوا بالله تعالى الظن

 “Artinya, berbaik sangkalah kalian kepada Allah Ta’ala.”[1]

Husnudzan (berperasangkan baik) kepada Allah adalah meyakini Asma', sifat serta perbuatan Allah yang layak bagi-Nya. Sebuah keyakinan yang menuntut pengaruh yang  nyata. Misalnya, meyakini bahwa Allah merahmati semua hamba-Nya dan memaafkan mereka jika mereka bertaubat dan kembali kepada-Nya. Allah akan menerima amal ketaatan dan ibadah mereka. Serta meyakini, Allah mempunyai hikmah yang sempurna dalam setiap yang Dia takdirkan dan tentukan.

Sedangkan siapa yang menyangka, husnudzan kepada Allah Ta'ala tidak disertai amal apapun, maka ia salah besar dan tidak memahami ibadah agung ini sesuai dengan pemahaman yang benar. Sesungguhnya husnudzan tidak tegak dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban dan menjalankan kemaksiatan-kemaksiatan. Maka siapa yang berperasangka baik kepada Allah semacam itu, ia telah tertipu, berharap yang salah, berpaham murji'ah yang tercela, serta merasa amal dari siksa Allah. Semua ini tercela dan membinasakan dirinya sendiri.

Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah (tentang orang-orang yang hanya berpangku tangan dengan alasan husnudzan kepada Allah),
كذبوا والله، لو أحسنوا الظن بالله لأحسنوا العمل

“Mereka berdusta demi Allah, seandainya mereka benar-benar husnudzan kepada Allah pastilah mereka akan beramal.”[2]

Ibnul Qayyim berkata,
وقد تبين الفرق بين حسن الظن والغرور ، وأن حسن الظن إن حمَل على العمل وحث عليه وساعده وساق إليه : فهو صحيح ، وإن دعا إلى البطالة والانهماك في المعاصي : فهو غرور ، وحسن الظن هو الرجاء ، فمن كان رجاؤه جاذباً له على الطاعة زاجراً له عن المعصية : فهو رجاء صحيح ، ومن كانت بطالته رجاء ورجاؤه بطالة وتفريطاً : فهو المغرور

"Telah nampak jelas perbedaan antara husnudzan dengan ghurur (tipuan). Adapun Husnuzan, jika ia mengajak dan mendorong beramal, membantu dan membuat rindu padanya: maka ia benar. Jika mengajak malas dan berkubang dengan maksiat: maka ia ghurur (tipuan). Husnuzan adalah raja' (pengharapan). Siapa yang pengharapannya mendorongnya untuk taat dan menjauhkannya dari maksiat: maka ia pengharapan yang benar. Sedangkan siapa yang kemalasannya adalah raja' dan meremehkan perintah: maka ia tertipu."[3]

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, "Berhusnuzan kepada Allah harus disertai dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Jika tidak, ia termasuk merasa aman dari siksa Allah. Oleh sebab itu, behusnudzan kepada Allah harus disertai melaksanakan sebab-sebab kebaikan yang jelas dan mejauhi semua sebab yang menghantarkan kepada keburukan: Ini merupakan pengharapan yang terpuji. Adapun husnudzan kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan menerjang keharaman: maka ia pengharapan yang tercela, itu termasuk bentuk merasa aman dari adzab Allah."[4]

Oleh karena itu diantara do’a yang dipanjatkan oleh Sa’id bin Jubair –salah seorang tabi’in-,
اللهم إني أسألك صدق التوكل عليك، وحسن الظن بك

 “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kejujuran dalam bertawakkal kepada-Mu, serta kebaikan dalam berhusnudzan kepada-Mu.”[5]

Merealisasikan Husnudzan Kepada Allah

Ada beberapa kondisi dimana setiap muslim senantiasa meningkatkan husnudzannya kepada Allah Ta’ala dan yang terpenting adalah dalam dua kondisi:

Pertama: saat dia menjalankan ketaatan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, NabiShallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Allah Ta'ala berfirman,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." [6]

Berdasarkan hadits di atas, husnudzan kepada Allah memiliki hubungan kuat dengan amal shalih. Karena sesudahnya disebutkan anjuran untuk berdzikir dan mendekatkan diri dengan amal ketaatan kepada-Nya'Azza wa Jalla. Maka siapa yang berprasangka baik kepada Allah pasti ia terdorong untuk berbuat baik.

Al-Hasan al-Bashri berkata,
المؤمن أحسنَ الظنّ بربّه فأحسن العملَ ، وإنّ الفاجر أساءَ الظنّ بربّه فأساءَ العمل

"Sesungguhnya seorang mukmin selalu berhusnudzan kepada Tuhannya lalu ia memperbagus amalnya. Dan sesungguhnya seorang pendosa berpesangka buruk kepada Tuhannya sehingga ia berbuat yang buruk." [7]

Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan, siapa yang memperhatikan persoalan ni dengan benar akan tahu, husnudzan kepada Allah adalah baiknya amal itu sendiri. Karena seorang hamba terdorong menjalankan amal baik karena ia berperasangka bahwa Tuhan-nya akan memberi balasan dan pahala atas semua amal-amal baiknya, serta menerimanya. Husnuzan-lah yang mendorongnya beramal shalih. Maka jika prasangkanya baik, baik pula amalnya. Jika tidak, husnudzan bersamaan dengan mengikuti hawa nafsu adalah kelemahan.

Ringkasnya, husnudzan pasti disertai dengan menjalankan sebab-sebab menuju keselamatan. Sebaliknya, jika menjalankan sebab-sebab kehancuran, pasti ia tidak berperasangka baik. (Disarikan dari al-Jawab al-Kaafi: 13-15)

Abu al-Abbas al-Qurthubi rahimahullah berkata, dikatakan, maknanya: berperasangka (yakin) dikabulkan doa saat berdoa, diterima saat bertaubat, diampuni saat istighfar, dan berperasangka akan diterima amal-amal saat menjalankannya sesuai dengan syarat-syaratnya; ia berpegang teguh dengan Dzat yang janji-Nya benar dan karunia-Nya melimpah. Aku katakan, ini dikuatkan oleh Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإجَابَةِ

"Berdoalah kepada Allah sementara kalian yakin diijabahi." (HR. Al-Tirmidi dengan sanad shahih).

Bagi orang bertaubat dan beristighfar, juga orang yang beramal agar bersungguh-sungguh dalam menjalankan niatan baiknya itu dengan disetai keyakinan bahwa Allah Ta'ala akan menerima amalnya dan mengampuni dosanya. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berjanji akan menerima taubat yang jujur dan amal-amal yang shalih. Seandainya ia menjalankan amal-amal tersebut dengan keyakinan atau prasangka bahwa Allah tidak akan menerimanya dan amal-amal tersebut tak memberikan manfaat baginya, itu namanya putus asa dari rahmat Allah. Sedangkan berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar. Siapa meninggal di atasnya, baginya apa yang diperasangkakannya. Adapun merasa mendapat ampunan dan rahmat dengan mengerjakan maksiat-maksiat: itu adalah kejahilan dan tertipu. Mereka itulah yang akan masuk dalam jeratan paham murji-ah.

Kedua: Saat tertimpa musibah dan menghadapi kematian. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda tiga hari menjelang wafatnya,
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ

"Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali ia berhusnuzan kepada Allah." (HR. Muslim)

Dalam kitab Al-Mausu'ah al-Fiqhiyah (10/220) disebutkan, wajib atas seorang mukmin berperasangka baik kepada Allah Ta'ala. Tempat yang lebih banyak diwajibkan berhusnzan kepada Allah: Saat tertimpa musibah dan saat kematian. Dianjurkan berhusnudzan kepada Allah Ta'ala bagi orang yang menghadapi kematian. Terus memperbagus perasangka kepada Allah dan meningkatkannya walaupun itu terasa berat saat menghadapi kematian dan sakit. Karena seharusnya seorang mukallaf senantiasa husnudzan kepada Allah.



Jauhi Prasangka Buruk Kepada Alloh

Sikap berburuk sangka merupakan sikap orang-orang jahiliyah, yang merupakan bentuk kekufuran yang dapat menghilangkan atau mengurangi tauhid seseorang. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya,
يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الأمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَا هُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Alloh seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Alloh.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.’ Katakanlah: ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Ali-Imran: 154)

Perlu untuk kita ketahui bersama, berprasangka buruk kepada Alloh dapat terjadi pada tiga hal, yaitu:

  1. Berprasangka bahwa Alloh akan melestarikan kebatilan dan menumbangkan al haq (kebenaran). Hal ini sebagaimana persangkaan orang-orang musyrik dan orang-orang munafik. Alloh berfirman yang artinya,

بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا



“Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya (terbunuh dalam peperangan, pen) dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (Al-Fath: 12)

Perbuatan seperti ini tidak pantas ditujukan pada Alloh karena tidak sesuai dengan hikmah Alloh janji-Nya yang benar. Inilah prasangka orang-orang kafir dan Neraka Wail-lah tempat mereka kembali.



  1. Mengingkari Qadha’ dan Qadar Alloh yaitu menyatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi di alam ini yang di luar kehendak Alloh dan taqdir Alloh. Seperti pendapat Sekte Qodariyah.

  2. Mengingkari adanya hikmah yang sempurna dalam taqdir Alloh. Sebagaimana pendapat Sekte Jahmiyah dan Sekte Asy’ariyah. Wallahu a’lam bish shawwab









[1]  Tafsir Ats-Tsauri: hal, 59.




[2]  Tafsir Abu Su’ud: 2/235.




[3]  Al-Jawabul Kaafi: hal, 24.




[4]  Al-Muntaqa' min Fatawa Al-Syaikh al-fauzan: 2/269.




[5]  Hilyatul Auliya’: 4/274.




[6]  HR. Bukhari dan Muslim.




[7]  Diriwayatkan Imam Ahmad dalam al-Zuhd, hal. 402.




Jumat, 19 Juli 2013


“Barang siapa yang tidak menjauhi ucapan yang tidak bermanfaat atau perbuatan yang tidak bermanfaat, maka Allah sekali-kali tidak butuh dengan amalan (puasanya) meninggalkan makan dan minum.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

  “Barang siapa yang tidak menjauhi ucapan yang tidak bermanfaat atau perbuatan yang tidak bermanfaat, maka Allah sekali-kali tidak butuh dengan amalan (puasanya) meninggalkan makan dan minum.”[1]

Diantara hikmah pensyari’atan puasa adalah untuk melatih dan mendidik jiwa, lesan dan anggota badan seseorang agar berada diatas takwa dan akhlak yang mulia. Oleh karena itu sucinya hati akan berdampak positif pada suci lisan dari perkataan yang menimbulkan dosa, demikian juga akan bersambung setelah dengan kebaikan nagota badan.

Oleh karena itu sibukkanlah diri kita dengan amalan-amalan yang positif di bulan Ramadhan ini baik berupa: puasa Ramadhan, tilawah Al-Qur’an, qiyamullail,dzikir, dll. Diwaktu yang sama juga kita jauhkan diri kita dari amalan-amalan dan ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat bahkan mendatangkan dosa misal: dusta, bersumpah palsu, ghibah, namimah (mengadu domba), mencela, menghinakan kehormatan muslim yang lain, dst.

Perlu untuk kita ketahui baik-baik bahwa lidah adalah aktor utama terjerumusnya seseorang kedalam kebinasaan, dijauhkan dari surga, dan terjerumus kedalam neraka; juga beberapa dosa-dosa lainnya yang membinasakan seperti: bersumpah palsudan perbuatan yang mengantarkan kepadanya, ghibah, namimah, mencela, dan berbuat kefasikan, yang mana perbuatan tersebut haruslah dijauhi tatkala seseorang sedang berpuasa Ramadhan.

Sesungguhnya petaka yang ditimbulakan dari lisan amatlah parah dan berbahaya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,
أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ قُلْتُ بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ : كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ، فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ ؟ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

  “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang pokok dari itu semua?” Maka Mu’adz menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Jagalah olehmu benda ini (lisan).” Maka aku (Muadz) berkata, “Wahai Nabiyullah, apakah kita akan mendapatkan siksa akibat dari apa yang kami ucapkan?” maka beliau bersabda, Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla menyayangi ibumu, wahai Mu’adz! bukanlah manusia terjungkir di neraka di atas wajah mereka -atau beliau bersabda: di atas hidung mereka- melainkan dengan sebab lisan mereka.”[2]

Berkata imam Ibnu Rajab rahimahullah,
والمراد بحصائد الألسنة: جزاء الكلام المحرم وعقوباته ، فإن الإنسان يزرع بقوله وعمله الحسنات والسيئات ثم يحصد يوم القيامة ما زرع، فمن زرع خيراً من قولٍ أو عمل حصد الكرامة، ومن زرع شراً من قولٍ أو عملٍ حصد غداً الندامة ، وظاهر حديث معاذ يدلُّ على أن أكثر ما يدخل به الناس النار النطقُ بألسنتهم ، فإن معصية النطق يدخل فيها الشركُ وهو أعظم الذنوب عند الله عز وجل ، ويدخل فيها القول على الله بغير علم وهو قرين الشرك ، ويدخل فيه شهادة الزور التي عدَلت الإشراك بالله عز وجل  ، ويدخل فيها السحر والقذف، وغير ذلك من الكبائر والصغائر كالكذب والغيبة والنميمة وسائر المعاصي الفعلية لا يخلو غالباً من قول يقترن بها يكون معيناً عليها

  “Yang dimaksud dengan ulah lisan pada hadits ini adalah: akibat dari ucapan haram yang diucapkan oleh seseorang, sesungguhnya seorang (di dunia ini) ibarat bercocok tanam dengan amalan dan perkataan yang baik atau dengan kejelekan kemudian ia akan memanennya di akherat. Barang siapa menanam kebaikan baik berupa ucapan atau perbuatan dia akan memanen kebaikan tersebut, namun barang siapa menanam keburukan baik berupa ucapan atau perbuatan maka ia kelak akan memanen penyesalan. Dari dzahir hadits Mu’adz ini ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan perkara yang memasukkan seseorang kedalam neraka adalah akibat ucapan lisannya. Diantara bentuk maksiat yang terdapat dalam ucapan lisan antara lain: kesyirikan, masuk juga di dalamnya bersaksi dengan persaksian palsu yang disebutkan beriringan setelah syirik, sihir, menuduh tanpa bukti dan selainnya baik dari dosa-dosa besar maupun dosa-dosa kecil seperti: dusta, ghibah, namimah, dan seluruh perbuatan maksiat yang mana kebnayakan sumbernya berasal dari lesan.”[3]

Adapun persaksian palsu atau perkataan dusta, maka Allah sebutkan penyebutannya setelah dosa syirik. Allah berfirman,
{فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ} [الحج:30]

   “Dan jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta.”(Al-Hajj: 30)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَدَلَتْ شَهَادَةُ الزُّورِ إِشْرَاكًا بِاللَّهِ ثَلَاثًا ثُمَّ قَرَأَ : {فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ}


   “Wahai para manusia, kesaksian palsu itu sebanding dengan syirik kepada Allah kemudian beliau membaca firman Allah,   “Dan jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta.”[4]



Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

Inginkah kalian kuberitahukan mengenai dosa besar yang paling besar?” Beliau menyatakannya tiga kali. Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulullah”. Maka beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orangtua”. Lalu beliau duduk padahal sebelumnya dalam keadaan bersandar, kemudian melanjutkan sabdanya: “Ketahuilah, juga ucapan dusta.” Dia (Abu Bakrah) berkata, “Beliau terus saja mengatakannya berulang-ulang hingga kami mengatakan, “Sekiranya beliau diam”.[5]

  Adapun larangan ghibah terdapat di dalam firman Allah Ta’ala,
{وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ }[الحجرات: 12]

  “Dan janganlah diantara kamu saling menggunjing sebagian lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” (Al-Hujurat: 12)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
اتدرون ما الغيبه؟ قالوا: الله ورسوله أعلم .قال:الْغِيبَة ذِكْرك أَخَاك بِمَا يَكْرَه قِيلَ : أَفَرَأَيْت إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُول ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُول فَقَدْ اِغْتَبْته ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ بَهَتّه

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Kemudian ada yang bertanya, “Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata apa pada saudaraku?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak berarti engkau telah berdusta atas namanya.”[6]

Adapun tentang larangan mengadu domba, maka Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,
وَ لَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah (namimah).” (Al-Qolam: 10-11)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

  “Tidak akan masuk surga seorang yang suka mengadu domba.”[7]

Demikian juga dusta adalah pokok utama yang akan mengantarkan seseorang menuju perbuatan-perbuata dosa dan nista. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

  sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada Neraka.”[8]

Allah Ta’ala juga berfirman menhelaskan tentang perintah untuk berucap dengan kejujuran,
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ } [التوبة: 119]

 “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian termasuk orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 119)

Intinya di sini, wajib atas lisan untuk berpuasa dari segala macam kejelekan-kejelekan di atas, hal itu dalam rangka menyempurnakan keimannya, agar terjaga agamanya, dan agar seorang di masukkan kedalam surga dan dijauhkan dari api neraka. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

  “Seorang muslim itu adalah seorang yang mampu memberikan keselamatan kepada kaum muslimin yang lainnya dari (ulah) lisan dan tangannya.”[9]

Beliau bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

  “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”[10]

Beliau bersabda,
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّة

  “Barang siapa bisa menjamin untukku (dalam menjaga) antara apa yang ada diantara kedua jenggotnya dan kedua kakinya, maka aku akan jamin baginya masuk surga.”[11]

Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah lisan dan kemaluan.

Rasulullah juga bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

  “Sungguh seorang hamba berucap dengan suatu ucapan yang amat jelas dalam mengucapkannya hal itu bisa menyebabkannya terjerumus kedalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari pada arah barat dan timur.”[12]

Hati-hatilah kita jangan sampai kita tergolong orang-orang yang bangkrut pada hari kiamat akibat kita tidak memperhatikan ucapan yang keluar dari lisan kita.
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ , فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا ؛ فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya : “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ?” Maka mereka (para sahabat ) menjawab : “orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan : “orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain ( dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka.”[13]
*****










[1]  HR. Bukhari: no. 1903.




[2]  HR. Tirmidzi: no, 2616. Dan beliau berkata: hadits hasan shahih.




[3]  Jami’ Ulum Wal Hikam: hal. 147.




[4]  HR. Ahmad: no. 16943 dan At-Tirmidzi: no. 2299. Hadits ini di dho’ifkan oleh syaikh Al-Albani di dalam Dho’iful Jami’: no. 6387.




[5]  HR. Al-Bukhari no. 78 dan Muslim no. 5975.




[6]  HR Muslim 2589 Bab: Al-Bir Wash Shilah Wal Adab.




[7]   HR. Bukhari: no. 6056 dan Muslim: no. 105.




[8]  HR. Bukhari: no. 6094 dan Muslim: no. 2607.




[9]  HR. Bukhari: no. 10 dan Muslim: no. 41.




[10]  HR. Bukhari: no. 6018 dan Muslim: no. 47.




[11]  HR. Bukhari: no. 6474.




[12]  HR. Bukhari: no. 6477 dan Muslim: no. 2988.




[13]  HR. Muslim: no. 2581.



Artikel Terbaru

Popular Posts