Tampilkan postingan dengan label Permata Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Permata Hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juli 2013



 

Setiap orang tua tentu memiliki harapan yang sama, yaitu keinginan agar anak-anak mereka menjadi anak yang shalih dan shalihah.


  Hanya saja perlu dicamkan baik-baik bahwa harapan seperti itu tidaklah hanya dicapai dengan angan-angan atau hayalan-hayalan mimpi. Akan tetapi keshalihan seorang anak itu bergantung pada keshalihan kedua orang tua.


 Oleh karena itu wahai para orang tua! Mulailah dari diri anda sendiri, anda membangun keimanan dan ketakwaan dihadapan Allah Ta’ala, agar dikemudin hari kebaikan tersebut akan tertular kepada anak-anak anda.


  Renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,


وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعافاً خافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً


 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisa’: 9)


  Di dalam ayat ini terdapat isyarat berupa peringatan kepada orang tua yang khawatir masa depan anak keturunannya, agar dia bertakwa kepada Allah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi seluruh larangannya agar kelak Allah menjaga anak keturunannya diatas keshalihan.


  Berkata Asy-Syaibani, “Dahulu kami tatkala berada di kota Konstantinopel bersama dengan pasukan Maslamah bin Abdul Malik, ketika itu kami sedang duduk-duduk bersama sekelompok ulama diantaranya Ibnu Ad-Dailami, maka mereka saling mengingatkan tentang apa yang terjadi berupa huru-hara hari kiamat. Maka aku katakan kepadanya (Ibnu Ad-Dailami), ‘Wahai Abu Bisyr, aku senang bila aku tidak memiliki anak.’ Maka ia menjawab, “Mengapa demikian! Tidak ada satu keturunan pun yang Allah takdirkan untuk keluar dari seseorang melainkan pasti akan keluar, baik dia suka atau pun tidak suka, hanya saja bila engkau ingin agar mereka menjadi baik maka bertakwalah engkau kepada Allah dengan berbuat baik kepada orang lain.” Kemudian ia membaca ayat diatas (An-Nisa’: 9).[1]


  Sejalan dengan makna diatas apa yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam,


مَنْ أَحْسَنَ الصَّدَقَةَ جَازَ عَلَى الصِّرَاطِ وَمَنْ قَضَى حَاجَةَ أَرْمَلَةٍ أَخْلَفَ  اللَّهُ فِي تَرِكَتِهِ


“Barang siapa memperbagus sedekah ia akan dibolehkan melewati shirath (jembatan), barang siapa mencukupi kebutuhan para janda tua maka Allah akan menjaga anak keturunannya.”[2]


 Perhatikanlah kisah berikut yang menunjukan akan keberkahan sebuah anak dalam keluarga!


  Dikisahkan bahwa Muqatil bin Sulaiman pernah menemui Al-Manshur pada saat ia dibai’at menjadi khalifah, maka Al-Manshur berkata kepadanya, “Berilah aku sebuah nasehat.” Maka Muqatil menjawab, “Nasehat dari hal yang aku lihat atau yang aku dengar?” ia menjawab, “Dengan apa yang engkau lihat.” Maka Muqatil berkata, “Wahai amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz memiliki 11 anak, ia meninggal hanya menyisakan uang 18 dinar, biaya mengkafaninya sebanyak 5 dinar, biaya penguburannya 4 dinar, kemudian sisanya diberikan kepada ahli warisnya...adapun Hisyam bin Abdul Malik memiliki juga 11 anak, dan ia meninggalkan warisan satu juta dinar untuk masaing-masing anaknya. Demi Allah wahai amirul mukminin, sungguh aku melihat dengan mata kepala saya sendiri salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz berinfak sebanyak seratus kuda untuk persiapan jigad di jalan Allah, diwaktu yang sama pula saya  melihat salah satu anak Hisyam sedang disibukkan dengan perdangan bisnisnya di pasar!!”[3]


 Keluarga yang Baik ibarat Ladang yang Menghasilkan Panenan yang Baik


Orang tua yang shalih akan menghasilkan anak-anak yang shalih dan shalihah. Namun jika tidak, yang terjadi adalah sebaliknya. Dikisahkan bahwa ada seorang tertangkap karena melakukan pencurian, maka tatkala hakim memutuskan dia untuk dipotong tangannya, sang pencuri ini berucap, ‘Potonglah tangan ibuku, karena dahulu tatkala aku masih kecil, aku pernah mencuri yelur, namun justeru ibuku gembira dan tersenyum dengan perbuatan yang aku lakukan’!!


  Dari sepenggal kisah diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa benih dan tanah yang baik akan menghasilkan tanaman dan panenan yang bagus namun jika sebaliknya maka akan menghasilkan tanaman dan panenan yang jelek. Hak seorang bapak adalah memilih benih yang baik dan menanamnya pada tanah yang bagus, hal itu dikarenakan seorang bapak harus memilih istri yang shalihah agar kelak anak-anaknya pun shalih dan shalihah. Allah Ta’ala berfirman,


وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَباتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لا يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِداً


“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya Hanya tumbuh merana.” (Al-A’raf: 58)


  Dikisahkan ada seorang yang bernama Al-Mubarak beliau adalah bapak dari seorang ulama besar yang bernama Abdullah bin Al-Mubarak. Dikisahkan bahwa Al-Mubarak dahulunya adalah seorang budak yang telah dimerdekakan oleh tuannya, kemudian ia menjadi pegawai pada sebuah perkebunan. Pada suatu ketika keluarlah pemiliki kebun bersama teman-temannya kekebunnya, kemudian ia berkata kepada Al-Mubarak, “Berian kepadaku satu buah delima yang manis.” Maka Mubarak membawa bebarapa buah yang dipetik, namun seluruhnya pahit. Kemudian pemilik kebun berkata kepadanya, “Apakah kamu tidak bisa membedakan antara yang manis dan pahit?” kemudian Mubarak mengatakan, “Engkau belum memberikan izin kepadaku untuk mencicipi buah tersebut.” Maka pemilik kebun berkata, “Kamu sudah menjaga kebun ini selama setahun masa belum pernah mencicipinya sama sekali.” Pemilik kebun mengira bahwa Mubarak telah berdusta. Maka kemudian sang majikan pun bertanya kepada tetangganya, dan dikhabarkan kepadanya bahwa Mubarak sama sekali belum pernah mencicipi buah delima di kebunnya sama sekali. Kemudian sang pemilik kebun berkata kepada Mubarak, “Wahai Mubarak, aku hanya memiliki satu orang puteri, kepada siapakah aku hendak menikahkannya?” maka Al-Mubarak menjawab, “Orang-orang Yahudi menikahkan karena harta, orang-orang Nasrani karena keelokan, orang-orang Arab menikahkan kerena kedudukan dan martabat, sedangkan kaum muslimin menikahkan puterinya dengan orang lain karena ketakwaannya. Lalu kelompok manakah yang akan engkau pilih? Nikahkanlah puterimi dengan seorang yang bertakwa.” Maka sang pemilik tanah berkata, “Adakah sekarang orang yang lebih takwa dari pada dirimu?” kemudian Mubarak dinikahkan dengan puterinya.


  Kemudian hasil dari pernikahan yang mulia ini lahirlah seorang anak yang bernama Abdullah bin Al-Mubarak. Seorang ulama besar amirul mikminin fil hadits (penghulunya para ahli hadits), seorang mujahid, imam dalam kezuhudan, keilmian, dan sedekah.


  Contoh yang lainnya adalah bapak dari imam Bukhari yang bernama Isma’il, ia pernah berkata sebelum meninggal, “Demi Allah, saya tidaklah mengetahui adanya barang haram yang masuk kerumahku satu hari pun baik berupa dinar, dirham   atau pun yang lainnya”...oleh karena itu terlahirlah dari dia seorang putera yang merupakan imam besar, yang mana  kitabnya adalah kitab yang paing shahih setelah Al-Qur’an yaitu Muhammad bin Isma’il Al-Bukari atau dikenal dengan imam Bukhari.[4]


  Kisah Dua Orang Tua Yang Shalih


   Tentu kita ingat sebuah kisah disebutkan di dalam surat Al-Kahfi. Dikisahkan bahwa Nabi Musa bersama khidir ‘alaihimassalam melewati sebuah perkampungan. Keduanya pun meminta penduduk kampung untuk menjamu mereka berdua, namun penduduk menolak. Selanjutnya Nabi Musa dan Khidir ‘alaihimassalam melihat sebuah bangunan yang hampir roboh. Tiba-tiba nabi Khidir memperbaiki dinding tersebut hingga baik kembali. Maka nabi Musa berkata, “Jika engkau berkehendak, tentu engkau bisa mengambil upah atasnya.” Maka jawaban Nabi Khidir atas pertanyaan itu adalah:


وَأَمَّا الْجِدارُ فَكانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُما وَكانَ أَبُوهُما صالِحاً فَأَرادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغا أَشُدَّهُما وَيَسْتَخْرِجا كَنزَهُما رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ


“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Al-Kahfi: 82)


  Demikianlah keshalihan dari orang tua akan mendatangkan rahmat bagi anak keturunannya.


  Berkata imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Firman Allah Ta’ala “sedang ayahnya adalah seorang yang saleh” terdapat faedah di dalamnya bahwa seorang yang shalih akan terjaga anak keturunannya, termasuk juga ia akan merasakan barakah dari ibadah (anak keturunan mereka) di dunia dan akherat, mendapatkan syafa’at mereka, dan mengangkat derajat mereka sampai pada derajat yang tertinggi di surga, hingga dia akan merasa bahagia dengan anak keturunannya. Hal ini telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an juga di dalam As-Sunnah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Dua anak ini terjaga karena keshalihan bapak mereka, padahal tidak disebutkan apakah kedua anak tersebut shalih atau tidak. Sedangkan bapak mereka yang shalih adalah bapak ketujuh mereka.[5]


  Berkata Al-Hasan Al-Basri rahimahullah,


مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوتُ إِلَّا حَفِظَهُ اللَّهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ.


 


  “Tidaklah seorang mukmin meninggal dunia, kecuali Allah akan jaga anaknya dan anak-anak keturunannya setelahnya.”


  Berkata Ibnul Munkadir,


إنَّ اللَّهَ لَيَحْفَظُ بِالرَّجُلِ الصَّالِحِ وَلَدَهُ وَوَلَدَ وَلَدِهِ وَالدُّوَيْرَاتِ الَّتِي حَوْلَهُ فَمَا يَزَالُونَ فِي حِفْظٍ مِنَ اللَّهِ وَسِتْرٍ


 “Allah akan menjaga dari diri seorang yang shalih anaknya, anak dari anaknya dan para keturunannya. Mereka selalu dalam penjagaan Allah dan ditutupi kesalahan kesalahannya.”[6]


 Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu,


إن المعروف ليجزي به ولد الوالد


“Sesungguhnya perbuatan baik akan memberikan balasan baik terhadap anak cucu.”[7]


 Berkata Al-Hafidz Ibnul Jauzi, “Tatkala aku bertekad ingin memperoleh kemuliaan dengan menikah serta menginginkan anak, maka aku pun beramal dengan menghatamkan Al-Qur’an seluruhnya, kemudian aku berdo’a kepada Allah Ta’ala agar Dia berkenan menganugerahkan kepadaku sepuluh anak, maka kemudian aku pun mendapatkan sepuluh anak.”[8]


  Salah seorang ulama yang bernama Abul Ma’ali Al-Juwaini adalah seorang yang biasa bekerja dan memberikan nafkah kepada istri dan anaknya yang masih menyusu dengan nafkah yang halal. Dia selalu berpesan kepada istrinya agar jangan sampai ada seorang pun menyusui anaknya. Kemudian suatu ketika masuklah seorang pembantu kemudian dia menyusui anaknya beberapa isapan!! Maka tatkala Abul Ma’alai mengetahui hal tersebut, dia pun memasukkan jarinya kedalam mulut anaknya, hingga keluarlah air susu yang masuk kemulutnya tersebut. Lebih ringan bagi saya kalau dia (anaknya) meninggal dari pada dia rusak (agamanya) disebabkan meminum susu yang bukan dari ibunya!! Perhatiakanlah di sini bagaimana satu suapan saja dari sesuatu yang tidak halal bisa merusak pelakunya.


  Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah melarang salah seorang cucunya yaitu Al-Hasan tatkala hendak memakan kurma sedekah. Beliau bersabda,


«كِخْ كِخْ» لِيَطْرَحَهَا، ثُمَّ قَالَ: «أَمَا شَعَرْتَ أَنَّا لاَ نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ»


 “Kikh, kikh (buanglah-bunaglah) kemudian beliau bersabda, Tahukah engkau bahwa kita tidak boleh memakan harta sedekah!!”[9]


 Berkata salah seorang ulama tabi’in yang bernama Sa’id bin Al-Musayyib,


لأزيدنّ في صلاتي من أجلك.....


 “Sungguh aku akan menambah malan sholat (sunnah) ku untuk kemaslahatanmu...” Maka anaknya berkata, “Mengapa demikian wahai ayahku?” Sa’id menjawab, “Aku berharap diriku akan terjaga disebabkan kebaikanmu.”[10]


  Perhatikanlah kisah yang diutarakan oleh imam Ahmad berikut,


حفَّظتني أمي القرآن وعمري عشر سنوات، وكانت توقظني قبل صلاة الفجر بوقت ليس بالقصير،وتحمي لي الماء؛ لأن الجو كان باردًا في بغداد، وتُلبسُني اللباس، ثم نصليأنا وإياها من قيام الليل ما شاء الله ، ثم ننطلق إلى المسجد وهي مغطاة بحجابها؛ لأن الطريق كانتبعيدة مظلمة موحشة لنصلي الفجر في المسجد، وتبقى معه حتى منتصف النهار لتعلمه القرآن والفقه. يقول: فلما بلغت السادسةعشرة قالت: يا بني سافِرْ في طلب الحديث؛ فإن طلب الحديث هجرة في سبيلالله. فأعدت له بعض متاع السفر من أرغفة الشعير ومن صُرَّة ملح، ثم قالت: إن الله إذا استُودِع شيئًا حفظه، فأستودعكالله الذي لا تضيع ودائعه


  “Aku hafal Al-Qur’an karena didikan ibuku semenjak aku berumur 10 tahun, ibuku membangunkanku beberapa lama sebelum shalat subuh, kemudian ia memanaskan air untukku; hal itu dikarenakan udara di Baghdad ketika itu dingin, kemudian ia memakaikan baju untukku, disusul kemudian aku dan dia mengerjakan shalat malam secara bersama-sama. Kemudian kami sama-sama pergi kemasjid dalam keadaan ibuku berhijab; jalan menuju masjid ketika itu jauh, gelap, dan menghawatirkan.”                 –kemudian tetap menemani imam Ahmad sampai pertengahan siang untuk mempelajari Al-Qur’an dan Fiqih-. Berkata imam Ahmad, “Maka tatkala aku berumur enam belas tahun, berkata ibuku kepadaku, “Wahai anakku, pergilah engkau untuk mencari hadits; karena sesungguhnya mencari hadits adalah jihad di jalan Allah.” Kemudian ibuku menyediakan untukku beberapa perbekalan safar seperti roti-roti yang sudah kering dan wadah garam. Kemudian ia berkata kepadaku, “Sesungguhnya Allah apabila dititipi sesuatu, maka Dia akan menjaganya, maka sesungguhnya aku menitipkanmu kepada Allah, yang mana Dia tidak akan menyia-nyiakan titipan itu.”[11]


  Lihatlah bagaimana setelah itu imam Ahmad menjadi imam besar dan rujukan di dalam masalah agama, hingga beliau digelari sebagai imam ahlus sunnah. Dari didikan siapakah itu?! Tidak lain dari seorang ibu yang shalihah. Hidup dalam kondisi yatim bukanlah alasan untuk berpangku tangan dan pasrah, itulah yang sudah dibuktikan oleh ibu imam Ahmad dalam mendidiknya.


  Berkata imam Adz-Dzahabi di dalam pujiannya kepada imam Ahmad,


ووالله لقدبلغ في الفقه خاصة رتبة الليث، ومالك، والشافعي، وأبي يوسف، وفي الزهدوالورع رتبة الفضيل، وإبراهيم بن أدهم، وفي الحفظ رتبة شعبة، ويحيىالقطان، وابن المديني، ولكن الجاهل لا يعلم رتبة نفسه، فكيف يعرف رتبة غيره؟


 “Sungguh demi Allah, dalam masalah Fiqih dia (imam Ahmad) selefel dengan Al-laits, Malik, Asy-Syafi’i, dan Abu Yusuf. Dalam hal kezuhudan dan wara’ beliau selefel dengan Al-Fudhail dan Ibrahim bin Adham. Dalam masalah hafalan beliau selefel dengan Syu’bah, Yahya bin Al-Qaththan, dan Ibnul Madini. Hanya saja orang bodoh itu dia tidak tahu kedudukan dirinya, apalagi mengetahui kedudukan orang lain.”


 Benarlah apa yang diucapkan oleh seorang penyair:


فليس اليتيم من مات أبواه ... وخلفاه في الحياة ذليلا


إنما اليتيـم من تـراه له... أما تخلت أو أبا مشغولا


“Seorang yatim yang sebenarnya bukanlah seorang yang ditinggal mati oleh bapaknya, kemudian dia mengalami kehinaan setelahnya


 Akan tetapi seorang yatim yang sebenarnya adalah seorang yang masih memiliki orang tua, akan tetapi ia tidak mendapatkan perhatian seorang bapak karena kesibukannya.”[12]










[1] Al-Murabbi An-Najih: hal, 17-18. Dr. Kholid Sa’ad An-Najjar. Cet Dar Al-Kautsar.





[2]  Tafsir Al-Qurthubi Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Tafsir surat An-Nisa: 2/1717.





[3]  Ni’amun Bila syukr: Kholid Abu Syadi: hal. 10. Cet Dar Ar-Rayah.





[4]  Al-Murabbi An-Najih: hal, 19-20.





[5] Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Kahfi hal, 234 secara ringkas. Lihat Al-Mirabbi An-Najih: hal, 21.





[6]  Jami’ Ulum Wal Hikam: hal, 250. Cet, Maktabah Fayyad Al-Qahirah. Tahqiq Hamdi Ad-Damradasy Muhammad.





[7]  Diriwayatkan oleh Al-Khara’ity di dalam Makarimul Akhlak, lihat kitab Muntaqa-nya: hal, 37.





[8]  Husnul Ukhwah: no, 94.





[9]  HR. Bukhari: no, 1386.





[10]  Al-Murabbi An-Najih: hal, 22.





[11] Sumber: http://www.iszlam.hu/index.php?option=com_content&view=article&id=105:2011-01-01-14-42-51&catid=52:2010-12-27-16-50-48&Itemid=77





[12]  Ibid.




Jumat, 25 Januari 2013



Hari demi hari berlalu, namun sudahkah kita instrospeksi diri terhadap hari-hari yang berlalu dihadapan kita, sudahkah kita bertanya kepada diri kita, amal shalih apakah yang hendak saya amalkan pada hari ini?

Ingatlah bahwa Allah Ta’ala berfirman,

وَوُضِعَ الْكِتابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنا مالِ هذَا الْكِتابِ لا يُغادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلاَّ أَحْصاها وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حاضِراً وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً


“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa akan merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) didalamnya. Mereka berkata ‘sungguh celaka kami! Kitab apakah ini? Tidak ada satupun yang tertinggal, yang kecil maupun yang besar melainkan tercatat semuanya.’ Dan mereka dapati (semua) apa yang mereka kerjakan (tertulis). Dan Rab-mu tidaklah berbuat dzalim kepada seoran  jua pun.” (Al-Kahfi: 49)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحافِظِينَ . كِراماً كاتِبِينَ . يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ


“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Mereka mengeyahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar: 10-12)

Berkata shahabat Abu Darda’ radhiyallahu’anhu, “Apabila seseorang menjumpai suatu pagi, berkumpullah hawa nafsu dan amalannya. Jika amalnya menuruti hawa nafsunya, maka harinya menjadi hari yang buruk. Dan jika hawa nafsunya menuruti amalannya, maka harinya menjadi hari yang baik.”[1]

Oleh karena itu bersegeralah dalam memperoleh kebaikan, dan mintalah taufiq kepada Allah agar dibimbing menuju jalan kebahagiaan.

Diantara prinsip-prinsip dalam memulai amalan shalih sehari-hari antara lain[2]:

  1. 1.      Memulai Hari dengan Niat yang Shalih


Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ خَارِجٍ يَخْرُجُ - يَعْنِي مِنْ بَيْتِهِ - إِلَّا بِيَدِهِ رَايَتَانِ: رَايَةٌ بِيَدِ مَلَكٍ، وَرَايَةٌ بِيَدِ شَيْطَانٍ، فَإِنْ خَرَجَ لِمَا يُحِبُّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، اتَّبَعَهُ الْمَلَكُ بِرَايَتِهِ، فَلَمْ يَزَلْ تَحْتَ رَايَةِ الْمَلَكِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ، وَإِنْ خَرَجَ لِمَا يُسْخِطُ اللهَ، اتَّبَعَهُ الشَّيْطَانُ بِرَايَتِهِ، فَلَمْ يَزَلْ تَحْتَ رَايَةِ الشَّيْطَانِ، حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ


“Setiap orang yang keluar dari rumahnya, maka didepan pintunya ada bendera ditanagan malaikat dan bendera ditangan setan. Apabila ia keluar untuk suatu tujuan yang dicintai oleh Allah, maka malaikat akan mengikutinya dengan membawa benderanya dan dia terus dibawah bendera malaikat hingga ia kembali kerumahnya. Adapun jika ia keluar untuk suatu tujuan yang dimurkai Allah, maka setan akan keluar mengikutinya dengan membawa benderanya dan ia terus dibawah bendera setan hingga ia kembali kerumahnya.”[3]

  1. 2.      Gemar beramal shalih


Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلَّا بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ، يُسْمِعَانِ أَهْلَ الْأَرْضِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى، وَلَا آبَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلَّا بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ الْأَرْضِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ: اللهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَأَعْطِ مُمْسِكًا مَالًا تَلَفًا


“Tidaklah terbit matahari kecuali diutus dua malaikat pada kedua sisinya. Keduanya menyeru yang dapat didengar oleh penduduk bumi, kecuali tsaqalain (manusia dan jin): ‘Wahai sekalian manusia! Marilah menuju kepada Rab kalian. Sesungguhnya sedikit namun cukup itu lebih baik dari pada banyak namun melalaikan.’ Dan tidaklah terbenam matahari, kecuali diutus kedua malaikat pada kedua sisinya. Mereka berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfaq. Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang yang tidak mau berinfaq’.” [4]

Sungguh amat sangat kasihan seorang yang berlalu dari hidupnya tanpa diisi ketaatan kepada Allah Ta’ala. Mereka membuka terbitnya matahari dengan kemaksiatan dan menutup terbenamnya matahari dengan kemaksiatan juga. Wal’iyadzubillah.

  1. 3.      Tidak Tertipu Dengan Angan-angan Kosong.


Hendaknya setiap muslim dan muslimah waspada dari sikap meyia-nyiakan waktu untuk sesuatu yang dapat membeinasakan, merugikan, atau hal-hal lain yang tidak bermanfaat.

Berkata imam Ibnu Jama’ah, “Hendaknya para penuntut ilmu bersegera untuk memanfaatkan masa mudanya dan seluruh waktu dari umurnya utuk memperoleh ilmu. Janganlah ia tergoyahkan dari tipuan angan-angan kosong dan emnunda-nunda, karena setiap saat dari umurnya akan berlalu, tidak akan pernah kembali, dan tidak dapat diganti.”[5]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

الشَّيْخُ يَكْبَرُ، وَيَضْعُفُ جِسْمُهُ وَقَلْبُهُ، شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَيْنِ: طُولِ الْعُمُرِ، وَالْمَالِ


“Setiap orang tua akan bertambah tua dan badannya akan melemah, namun hatinya senantiasa merasa muda dalam kedua kecintaan: (1) panjang umur dan (2) cinta harta.”[6]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam bersabda,

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَبْقَى مِنْهُ اثْنَتَانِ: الْحِرْصُ، وَالْأَمَلُ


“Setiap anak Adam itu akan menjadi tua dan hanya tersisa darinya dua hal: ambisi dan angan-angannya.”[7]

Allah Ta’ala berfirman,

...الشَّيْطانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلى لَهُمْ


“...Setan telah menjadikan mereka mudah untuk (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. Muhammad: 25)

  1. 4.      Bersungguh-sungguh dalam memperoleh sesuatu yang bermanfaat.


Hendaknya setiap muslim dan muslimah senantiasa mengkonsentrasikan dirinya untuk sesuatu yang bermanfaat didunia dan akherat, disertai ketundukan kepada-Nya dan permintaan tolong kepada-Nya. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ، وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa-apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganah engkau berkata, ‘seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu,’ tetapi katakanlah, ‘Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki,’ karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan setan.”[8]

  1. 5.      Tawakkal Kepada Allah Ta’ala


Hendaknya setiap muslim untuk mengisi aktivitasnya dengan tawakkal kepada Allah. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallammbersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا


“Andaikan kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mreka pergi pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang pada sore hari dalam keadaan perut kenyang.”[9]

Berkata imam Ibnu Rajab, “Hadits ini adalah landasan dalam bertawakkal. Hal itu juga diantara sebab dalam memperoleh rizki.”[10]

  1. 6.      Senantiasa Bersikap Jujur


Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا


“Hendaknya kalian selalu jujur, karena jujur menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan kepada surga, senantiasa seseorang itu jujur dan selalu berusaha jujur sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang yang jujur.”[11]

  1. Larangan Berbuat Dzalim


Larangan ini mencangkup kedzaliman kepada diri sendiri seperti kesyrikan, kebid’ahan, dan segala bentuk maksiat. Maupun kedzaliman kepada orang lain seperti menipu, mencuri, menghancurkan kehormatan orang lain, dst.

Adzab bagi orang yang dzalim amat berat dan pedih, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ» قَالَ: ثُمَّ قَرَأَ: {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ القُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ}


“Sesungguhnya Allah pasti menunda (huuman) bagi orang yang dzalim, namun jika Allah telah menyiksanya, maka Dia tidak akan meloloskannya.” Kemudian beliau shallallahu’alaihi wasallam membaca ayat, Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.”(QS. Huud: 102)[12]

  1. 8.      Bersikap Zuhud


Syaikhul Islam mendefinisikan zuhud yang benar menurut syari’at Islam adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat di akherat serta hatinya yakin dan percaya dengan apa yang ada disisi Allah Ta’ala.[13]

Bersikap zuhud akan menatangkan kecintaan Allah dan kecintaan manusia. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ


“Zuhudlah di dunia, niscaya engkau dicintai Allah. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, niscaya engkau akan dicintai oleh manusia.”[14]

Hendaknya setiap muslim bererientasi  kepada akherat dalam menjalani kehidupan dunianya.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا نِيَّتَهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِي راغمة


“Barang siapa yang tujuan hidupnya adalah dunia, niscaya Allah akan mencerai beraikan urusannya, menjadikan kefaqiran di pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia (sekedar) apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang niat (tujuan)nya adalah akherat, niscaya Allah akan smengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”[15]

  1. 9.      Dilarang Saling Mendengki


Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا


“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling berbuat najasy[16], jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan janganlahh sebagian kalian membeli barang yang ditawar oleh orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.[17]

Namun amat sangat disayangkan sifat ini acap kali terjadi dikalangan para pedagang, para pelaku bisnis, dalam kehidupan bertetangga, bahkan terkadang menjangkiti para ulama dan penuntut ilmu. Wallahul musta’an.

 








[1]  Dzammul Hawa’: no. 22, karya imam Ibnul Jauzi.




[2]  Lihat Ritual Sunnah Setahun: hal. 39-49, karya Ust. Yazid Jawwas hafidzahullah.




[3]  HR. Ahmad: 2/323. Dengan sanad yang hasan.




[4]  HR. Ahmad: 5/197, abu Dawud Ath-Thayalisi: no. 1072, Ibnu Hibban: no. 2476-Al-Mawarid, Al-Hakim: 4/444-445), dan lainnya. Dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani didalam Ash-Shahihah: no. 443.




[5]  Tadzkiratus saami’ wal Mutakallim: hal. 114-115.




[6]  HR. Ahmad: 2/335, 369. Dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: no. 1906.




[7]   HR. Ahmad: 3/115, 275. Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani didalam Shahih Al-Jami’: 8173.




[8]  HR. Muslim: no. 2664.




[9]  HR. Tirmidzi: no. 2344, Ibnu Majah: no. 4164 dll, dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani didalam Ash-Shahihah: no. 310.




[10]  Jami’ul Ulum Wal Hikam: hal. 516.




[11]  HR. Bukhari: no. 6094 dan Muslim: no. 6805.




[12]  HR. Bukhari: 4686 dan Muslim: no. 2583.




[13]  Majmu’ Fatawa: 10/641.




[14]  HR. Ibnu Majah: no. 4102, Ibnu Hibban dalam Raudhotul ‘Uqalaa’: hal. 128, Ath-Thabrani: no. 5972, lihat Ash-Shahihah: no. 944 dan Shahih Al-Jami’: no. 950.




[15]  HR. Ahmad: 5/183, Ibnu Majah: no. 4105 dll, serta dishahihkan oleh syaikh Al-Albani didalam Ash-Shahihah: no. 950.




[16]  Najasy adalah seorang berpura-pura menawar suatu barang dagangan dengan harga tinggi dihadapan para pembeli lainnya. Tujuannya supaya nilai barang itu semakin tinggi dan orang yang membelinya tidak merasa kemahalan.




[17]  HR. Muslim: no. 2564.


Senin, 29 Oktober 2012

 



Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Sampai pada firman-Nya:
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ  يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ
“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 13-17) Hingga dua ayat setelahnya.
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah mereka apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud no. 495)
Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:
أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ فَجَعَلَهَا فِي فِيهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كِخْ كِخْ لِيَطْرَحَهَا ثُمَّ قَالَ أَمَا شَعَرْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ
“Suatu hari Al-Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma mengambil kurma dari kurma-kurma shadaqah lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hei, hei,” agar dia membuangnya dari mulutnya. Kemudian Beliau bersabda: “Tidakkah kamu mengetahui bahwa kita (ahlul bait) tidak boleh memakan zakat.” (HR. Al-Bukhari no. 1491 dan Muslim no. 1069)
Umar bin Abu Salamah berkata: “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tanganku kesana kemari di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak kecil, bacalah ‘bismillah’, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” (HR. Al-Bukhari: 9/521 dan Muslim no. 2022)
Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata: Aku pernah berada di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, lalu beliau bersabda:
يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ
“Hai nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kau akan menemui-Nya berada di hadapanmu. Bila kau meminta maka mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberimu manfaat, niscaya mereka tidak akan memberi manfaat apa pun kepadamu selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk membahayakanmu, niscaya mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (penulis takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (tempat menulis takdir) telah kering.” (HR. At-Tirmizi no. 2516)
Maksudnya: Takdir tidak akan bisa lagi berubah.

Penjelasan ringkas:
Di antara perkara yang dilalaikan oleh banyak orang tua adalah perkara yang berkenaan dengan pengajaran agama kepada anak-anak mereka, memberikan tuntunan kepada mereka, serta mengingatkan mereka ketika mereka melakukan kesalahan. Hal itu karena mereka berfikiran bahwa anak-anak itu bukanlah mukallaf (belum wajib mengerjakan syariat), karena itu tidak mengapa mereka meninggalkan perintah atau mengerjakan larangan, selama mereka belum balig.

Pikiran seperti ini -walaupun benar dari satu sisi- akan tetapi merupakan kesalahan dan kelalaian dari sisi yang lain. Hal itu karena membiasakan serta melatih anak-anak untuk mengerjakan apa yang diperintahkan atau menjauhi apa yang dilarang, merupakan termasuk wasilah terbesar guna mempersiapkan mereka agar bisa mematuhi aturan-aturan syariat setelah nanti mereka balig. Jika mereka tidak dibiasakan sejak usia tamyiz (mumayyiz) maka ketika mereka balig, mereka tentu akan kesulitan dan merasa berat untuk mematuhi aturan-aturan syariat yang secara umum sifatnya mengatur kehidupannya, karena sebelum itu dia tidak terbiasa untuk diatur.

Karenanya, seperti yang kita lihat dari dalil-dalil di atas, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sudah membiasakan anak kecil untuk menjalankan syariat serta memerintahkan setiap orang tua untuk melakukan hal yang sama. Bahkan sebelum beliau, Allah Ta’ala telah gambarkan bagaimana pengajaran yang luar biasa dari Luqman rahimahullah kepada anaknya yang masih kecil, sebuah pengajaran yang mencakup semua sisi ajaran Islam. Luqman mengajarkan kepada anaknya akan: Bahayanya kesyirikan, wajibnya berbakti kepada kedua orang tua terutama ibu dan beliau mengabarkan bahwa kekafiran orang tua tidaklah menggugurkan hak mereka untuk kita berbakti kepadanya, beliau juga mengajarkan wajibnya bersyukur kepada Allah, merasa selalu diawasi oleh Allah, wajibnya mengerjakan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan harusnya bersabar dalam menghadapi semua musibah yang Allah timpakan, semua ini berkenaan dengan muamalah hamba dengan Pencipta mereka. Adapun pengajaran Luqman yang berkenaan hubungan sesama manusia maka beliau memerintahkan untuk: Berbuat baik kepada manusia, tidak berlaku sombong, berjalan dengan tawadhu’, dan merendahkan suara ketika berbicara. Subhanallah, betapa indahnya semua wasiat di atas, wasiat yang mengumpulkan antara perintah dan larangan.

Adapun dalam As-Sunnah, maka juga telah diriwayatkan banyak pengajaran Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada anak kecil, yang juga terdiri dari perintah dan larangan, di antaranya:
a.    Memerintahkan anak lelaki dan wanita untuk mengerjakan shalat, yang mana perintah ini dimulai dari mereka berusia 7 tahun. Jika mereka tidak menaatinya maka Islam belum mengizinkan untuk memukul mereka, akan tetapi cukup dengan teguran yang bersifat menekan tapi bukan ancaman.

b.    Jika mereka menaatinya maka alhamdulillah. Akan tetapi jika sampai usia 10 tahun mereka belum juga mau mengerjakan shalat, maka Islam memerintahkan untuk memukul anak tersebut dengan pukulan yang mendidik dan bukan pukulan yang mencederai. Karenanya, sebelum pukulan tersebut dilakukan, harus didahului oleh peringatan atau ancaman atau janji yang tentunya akan dipenuhi. Yang jelas pukulan merupakan jalan terakhir.
Sebagai tambahan: Diperbolehkan orang tua memberikan hadiah atau apresiasi atas ibadah yang dikerjakan oleh sang anak, hanya saja tentunya jangan dijadikan kebiasaan, karena membiasakan pemberian hadiah akan menjadikan mereka terbiasa melakukan amalan karena ada imbalan alias tidak ikhlas.

c.    Wajibnya memisahkan antara tempat tidur anak lelaki dengan anak wanita jika mereka sudah berumur 10 tahun. Hal ini dilakukan sebagai tindakan prefentif (pencegahan) terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Karenanya jika orang tua mampu maka hendaknya mereka menyediakan untuk setiap anaknya tempat tidur tersendiri, bahkan kalau bisa kamar tersendiri.
Jika orang tua tidak sanggup untuk memisahkan tempat tidur anak lelaki dengan anak perempuannya (karena factor ekonomi misalnya), maka harus meletakkan sesuatu (apakah bantal atau guling atau apa saja) yang menjadi pemisah di antara keduanya kalau memang mereka terpaksa tidur di atas satu tempat tidur.
Kalau ini sudah harus diberlakukan di antara anak-anak, maka tentunya lebih harus lagi diberlakukan pada orang-orang dewasa, walaupun mereka sama-sama lelaki atau sama-sama wanita. Karena kecendrungan kepada sesama jenis masih senantiasa terbuka lebar bagi siapa yang memberikan kesempatan kepada setan untuk menggodanya.

d.    Di antara pengajaran Nabi shallallahu alaihi wasallam -dan ini termasuk yang terhebat- adalah melarang dan menjauhkan anak-anak dari memakan harta yang haram dia makan. Baik makanan itu diharamkan karena zatnya maupun makanan yang diharamkan karena sebabnya. Di antara factor terbesar keengganan anak untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah karena hati mereka rusak sebagai akibat terbiasa mengonsumsi makanan yang haram.

e.    Demikian halnya Nabi shallallahu alaihi wasallam menuntunkan tata cara makan yang benar kepada anak kecil yang tidak beradab dalam makan. Beliau menyuruh mereka untuk membaca basmalah, makan dengan menggunakan tangan kanan, dan memulai makan dengan makanan yang terdekat.

f.    Juga pengajaran beliau shallallahu alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas akan wajibnya menaati semua aturan Allah, wajibnya menyerahkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah, serta wajibnya beriman kepada semua takdir yang Allah telah tetapkan.

Jumat, 07 September 2012

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron



 Kami yakin bahwa setiap orang tua yang sayang kepada anaknya tentu sedih bila sang buah hati sering menangis. Bahkan boleh jadi jengkel, hati bertambah keras ketika anak sering menangis, bahkan lalu dipukul. Ketahuilah, kekerasan tidaklah akan menyelesaikan perkara.



Orang tua tidak perlu sedih dan panik ketika anaknya sering menangis. Carilah penyebabnya, karena setiap problem atau penyakit pasti ada obatnya. Alloh Ta’ala berfirman :



Sesungguhnya sesudah kesakitan itu ada kemudahan. (QS. Asy-Syarh [94] : 6)



Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Tidaklah Alloh menurunkan penyakit melainkan Dia menurunkan pula obatnya.” (HR. al-Bukhori 19/89)



MENGAPA BAYI SERING MENANGIS ?



Bayi menangis tentu ada sebabnya. Bisa jadi karena ditinggal kekasihnya dan akan diam bila kekasihnya datang menghampirinya. Atau karena haus dan lapar yang kalau dengan diberi makan dan minum dia akan diam, atau dia risih dengan kotoran dan najis yang mengenai badannya, atau karena kulit pantat atau kelaminnya terluka karena pengaruh popok atau diaper yang terkadang orang tua kurang memperhatikan, atau perutnya kembung, atau karena yang lain. Orang tua hendaknya mengerti dan waspada apa yang dirasakan oleh anaknya, karena dia belum mampu menyampaikan keluhannya. Dia hanya bisa menangis bila merasakan sakit atau bila tidak terpenuhi keinginannya. Insya Alloh dengan mencari dan mengatasi penyebabnya anak akan menjadi tenang dan tidak menangis lagi. Kecualibila pembawaannya memang suka menangis, orang tua hendaknya bersabar dan insya Alloh tangisan anak ada manfaatnya.



Apabila penyebabnya sudah dicari ternyata tidak ada, coba dibawa ke dokter, barangkali ada penyakit dalam yang orang tua tidak mengetahuinya. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Tidaklah Alloh menurunkan penyakit melainkan Dia menurunkan obatnya. Sebagian orang mengetahui obatnya, dan sebagian lagi tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad 1/377, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shohihul Jami’ 1089).



Jika dinyatakan oleh dokter spesialis anak bahwa dia tidak sakit, tentu ada penyebab lain. Mungkin dia diganggu oleh orang yang dengki atau makhluk halus berupa jin.



Gangguan jin memang ada. Oleh karena itulah kita disuruh membaca surat al-Falaq dan an-Nas karena surat ini mengandung permohonan perlindungan kepada Alloh dari gangguan setan manusia dan setan jin.



Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat di rumahnya ada budak perempuan yang wajahnya pucat, muram dan hitam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Ruqyahlah (bacakan ayat al-Qur’an) dia, karena dia terkena gangguan makhluk halus.” (HR. Al-Bukhori 7/171).



Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Penyakit al-ain karena dilihat oleh orang yang dengki itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir, tentu penyakit ain-lah yang mendahuluinya. Apabila kamu diminta memandikan, maka mandikanlah dia.” (HR. Muslim 7/13).



Imam Malik rahimahullah berkata : Apabila kamu diminta untuk memandikan orang yang terkena penyakit ain, maka basuh wajahnya, dua tangannya, dua sikunya, dua lututnya dan ujung jari kakinya dan semua badannya dengan air yang dimasak. (Faidhul Qodir 5/416)



Sebagian ulama menjelaskan, hendaknya dimandikan dengan tujuh lembar daun bidara atau berapa saja. Ada yang mempraktikkan dicampur dengan tawas dan satu sendok garam, lalu dimasak sampai mendidih dan dimandikan, maka sembuh penyakitnya, dan inilah sering kami praktikkan. Ketika ada orang mengeluh terkena gangguan jin. Alhamdulillah Alloh menyembuhkan gangguan tersebut.



Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Hendaknya orang yang terkena penyakit ain (gangguan jin) berwudhu dan mandi.” (HR. Abu Dawud, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah ash-Shohihah  6/61).



Inilah pengobatan Tibbun Nabawi yang sangat manjur, tentunya dengan kehendak Alloh Ta’ala.



CARA MERUQYAH ANAK YANG TERKENA GANGGUAN JIN



Jika dimandikan dengan daun bidara atau diberi minum daun bidara belum sembuh atau tidak ada reaksi, maka kita mencoba meruqyahnya dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an dan do’a yang ma’tsur dari Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau para ulama sunnah. Caranya :


Upayakan rumah tidak ada gambar yang bernyawa, anjing dan barang yang dianggap keramat, semisal keris, azimat, ayam atau burung yang dianggap bisa menangkal bala’, tidak menyalakan TV, tidak ada suara nyanyian, karena benda ini menghalangi malaikat rahmat masuk di rumah kita.


Bersucilah sebelum meruqyah. Bila perlu mandi dan sholatlah dua roka’at di rumah, memohon kepada Alloh agar dia disembuhkan penyakitnya, sebagaimana beliau menjalankan sholat dua roka’at pada saat berkunjung di rumah sahabatnya.


Bacakanlah di telinga anak yang menangis surat al-Fatihah, Ayat Kursi, dua ayat yang terakhir dari surat al-baqoroh, surat al-A’rof 117-122, Yunus 80-82, Thoha 65-69, al-Kafirun, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas. Mulailah dengan bacaan ta’awwudz setiap membaca ayat tadi. Atau membaca surat lainnya juga tidak mengapa, karena semua ayat al-Qur’an adalah syifa’ (obat). Insya Alloh jika penyebabnya diganggu jin, anak akan diam sebelum kita selesai membaca semua surat tersebut. Alhamdulillah pengobatan ini sering kami praktikkan dan hasilnya cukup memuaskan.


Jika mungkin memahami makna ayat yang dibaca itu lebih baik karena mengena sasarannya.


Hendaknya kita tidak menzholimi orang lain, baik dengan mengambil hartanya tanpa haq, atau dengan melontarkan perkataan atau perbuatan yang menyakitinya. Sebab terkadang orang yang dizholimi akan memendam dendam dan ingin membalas dengan cara yang halus. Dia pergi ke tukang sihir atau dukun, lalu dukun itu meminta bantuan jin dengan mengirim buhul-buhul kepada orang yang dituju. Atau bisa jadi dia berdoa, lalu doanya dikabulkan oleh Alloh Ta’ala.


Hendaknya orang yang meruqyah memiliki ilmu dien (agama) yang cukup, beramal sholih, menjauhi makan dari hasil yang haram karena hal itu bisa jadi menghalangi terkabulnya doa, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang shohih.



HINDARKAN ANAK DARI GANGGUAN JIN



Untuk membendung kemungkinan anak di ganggu jin, upayakan anak tidak keluar pada saat matahari tenggelam, dan tutuplah pintu dan jendela rumah, karena pada saat itu setan sedang menyebar di mana-mana. Tutuplah makanan dan minuman agar setan tidak makan dan minum bersama kita. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Apabila matahari menjelang terbenam, cegahlah anakmu keluar dari rumah, karena waktu itu setan sedang menyebar. Apabila sudah agak petang, mereka boleh keluar. Tutuplah pintu dan bacalah bismillah, karena setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup.” (HR. Al-Bukhori 4/155)



Apabila anak diajak keluar, hendaknya sang ibu atau bapak membaca doa untuk dirinya dan anaknya :



”Dengan menyebut nama Alloh, aku bertawakal kepada Alloh. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Alloh.”



Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Barangsiapa keluar dari rumah lalu membaca :



Dikatakan kepadanya ; Engkau telah mendapatkan petunjuk, engkau telah dicukupi, engkau telah dijaga dan dijauhkan dari gangguan setan.” (HR. At-Tirmidzi).



 



Dan ditambahkan oleh Abu Dawud : ”Setan itu memberitahu setan lain, ’Bagaimana mungkin kamu bisa menggoda orang ini, padahal dia telah mendapatkan petunjuk, telah dicukupi dan dijaga dari segala gangguan?!’” (HR. Abu Dawud, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah 4/486).



Jangan lupa berwudhu ketika hendak tidur dan bacalah do’a sebelum tidur, Ayat Kursi, surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas tiga kali. Setelah itu, tiupkan bacaan ketiga surat ini ke kedua telapak tangannya dan diusapkan ke semua anggota badannya, mulai dari ubun-ubun sampai telapak kaki, sebagaimana keterangan hadits yang shohih. Dan akhirilah dengan doa :



Semoga dengan mengawali mendidik anak sesuai sunnah, anak akan dilindungi oleh Alloh Ta’ala dari gangguan makhluk halus dan menjadi anak yang shohih dan sholihah



Sumber: Majalah Al-Mawaddah Vol. 41 Rajab 1432H/Juni-Juli 2011M


Artikel Terbaru

Popular Posts